Posted by: Haluan Harian | June 12, 2007

Sopir yang Didambakan

Oleh : Alfajri

Ketika menuju Kota Padang beberapa waktu lalu, bus AKDP yang saya tumpangi dari Batusangkar mulanya berjalan lambat dan terasa sangat membosankan. Sejumlah penumpang tampak menggurutu dan kesal akibat bus yang bergerak seperti “Siput” itu. Namun sesampai di Padang Panjang, sang sopir melihat dari kaca spion bus AKDP lain dengan jurusan yang sama telah berada di belakang.            Keadaan langsung berubah 180 derajat, bus yang tadi beringsut-ingsut dipacu secepat mungkin. Akibatnya bus pun oleng ke kiri dan ke kanan karena terus menyalib kendaraan yang ada di depannya. Para penumpang hanya bisa menahan nafas, apalagi ketika bus yang ditumpangi nyaris tabrakan.            Sesampai di Padang, sejumlah angkot dengan terus membunyikan klakson beragam suara telah menunggu. Ketika angkot yang penuh dengan speaker dan sound system itu mulai berjalan, sang sopir memutar lagu barat yang entah apa artinya dengan volume keras. “Kiri pak sopir,” teriak seorang ibu, namun angkot tersebut tetap melaju kencang karena sopirnya tidak mendengar. Setelah memukul-mukul kaca dan diteriaki beberapa penumpang barulah angkot tadi berhenti. Akibatnya si ibu tadi terpaksa berjalan seratus meter lebih dari tempat yang hendak ia tuju.            Walaupun ini bukan konklusi, namun dalam pikiran saya semua sopir angkutan umum sama saja. Demi untuk mengejar setoran, mereka tega merugikan para penumpang, bahkan mempertaruhkan nyawa sekalipun. Belum lagi banyak diberitakan, ada sopir yang menabrak orang lain atau mengalami kecalakaan, kemudian ia menghilang entah kemana. Ada pula sopir yang bekerja sama dengan pencopet di dalam angkot dan bus kota, menelantarkan penumpang, ugal-ugalan di jalan, dan sebagainya.            Namun membaca Haluan Sabtu (2/6) lalu, memberikan secercah harapan bahwa masih ada sopir angkutan umum yang benar-benar bekerja dengan baik. Beberapa sopir terpilih sebagai Awak Kendaraan Umum Teladan (AKUT) 2007 yang diadakan oleh Dinas Perhubungan Kota Padang.            Di samping ketiadaan terminal dan sempitnya ruas jalan serta meningkatnya jumlah angkutan umum menjadi faktor terjadinya kemacetan. Pada tahun 2003 jumlah angkot di Kota Padang hanya 1.756 buah dan bus kota 423 buah. Pada tahun 2007 ini jumlah angkot mencapai 2300 lebih dan bus kota 480 buah, belum termasuk jumlah taksi.

            Harapan masyarakat pengguna angkutan umum pastinya berharap, bahwa angkutan yang mereka tumpangi dikemudikan oleh sopir yang profesional, sopir yang disiplin, ramah dan mengutamakan keselamatan penumpang. Bila para sopir angkutan umum berdisiplin dalam berlalu lintas maka masalah kemacetan secara berangsur akan berkurang.

Advertisements

Categories

%d bloggers like this: