Posted by: Haluan Harian | December 31, 2007

2007, Tahun Pahit Membawa Hikmah

PADANG, Haluan

“Kita tidak boleh terus menangis semakipun bencana silih berganti dijatuhkan Tuhan kepada kita, selain ujian, bencana juga harus dijadikan sebagai starting point untuk membuat kita terus kreatif membenahi daerah ini,” kata Gubernur Gamawan Fauzi kemarin dalam jumpa pers akhir tahun di gubernur.

Didampingi Sekdaprov Yohanes Dahlah, para Asisten Sekda, Kepala Bawasda, Kepala Bappeda dan jurubicara Pemprov, Devi ‘Pung’ Kurnia, gubernur memaparkan berbagai rangkaian bencana yang menerpa Sumatra Barat sepanjang 2007 sekaligus mereview sejumlah capaian di tahun 2007.

Menurut gubernur, Sumatra Barat tidak boleh terus menerus menangis. Gempa, banjir, tanah longsor, kebakaran sampai ancaman tsunami yang diawali dengan isu-isu harusnya membuat kita tegar. “Secara rohani, dapat dikatakan ini adalah cobaan. Tetapi itu tidak boleh membuat kita berhenti membangun karsa dan kreasi di tengah kesulitan. Kalau terus menerus hanya menangisi bencana, kapan kita akan bangkit?” ujar Gamawan Haluan, usai jumpa pers tersebut.

Menjawab Haluan apakah hasil dari membangun karsa dan kreatifitas selama 2007 itu? Gamawan dengan cepat mengatakan bahwa ternyata berbagai bencana yang diramalkan akan memerosotkan laju pertumbuhan ekonomi daerah itu, tidak terbukti.

 “Tahun ini kita bisa capai laju pertumbuhan 6,29 persen. Tahun sebelumnya hanya 6,14 dan sebelumnya lagi 5,73 persen. Meskipun ini angka-angka makro, ini amat melegakan kita,” katanya.

Kepala Bappeda Bambang Istijono dan Asisten II Suryadharma Sabirin menyebutkan bahwa laju petumbuhan itu tercapai setelah sejumlah rencana investasi baik PMDN maupun PMA tahun sebelumnya direalisasikan pada 2007 ini.

 Tetapi yang juga tak kalah signifikan mengantrol laju pertumbuhan itu adalah kerja keras melobi pusat oleh pemerintah provinsi yang hasilnya pengucuran anggaran sampai di atas Rp3 triliun.

Dalam catatan Haluan selama 2007 tak kurang dari Rp2,8 triliun anggaran pusat yang dikucurkan lewat APBN, APBD dan DAK. Jumlah itu masih diitambah dengan dana-dana yang dikelola oleh instansi vertikal yang ada di daerah ini.

Selama 2007 bagi Sumatra Barat boleh dikatakan sebagai tahun yang amat pahit bagi. Ditandai dengan banyaknya bencana alam dari gempa, banjir hingga kebakaran pasar dan istana pagaruyung.

Tetapi di tahun ini pula sesungguhnya pemerintah Sumatra Barat menyelesaikan berbagai bengkalai masa lalu antara lain dicapainya pengeluaran Cemex dari PTSP, diselesaikannya Mesjid Nurul Iman, diintesifkannya proyek-proyek infrastruktur besar seperti fly over Duku dan Kelok Sembilan dari pola budgetting yang dicicil-cicil (parsial) menjadi pola multiyears. “Artinya sekali tepuk hingga selesai, tak perlu dicicil-cicil lagi. Toh dia (proyek itu) tetap akan dibangun juga. Jadi dari pada berulang-ulang tender proyeknya yang bisa berpotensi kesalahan dalam mixing proyek, maka lebih baik pola multiyears saja,” kata Gamawan Fauzi.

Dan tahun 2007 bermakna bagi Sumatra Barat, dimana setelah 2 tahun pemerintahan Gamma barulah dicapai berbagai hasil perjuangan berat untuk memulai hal-hal baru. Antara lain dimualainya pembangunan Mesjid Raya, Jalan alternatif Duku-Sicincin, Jalan tembus Sicincin-Malalak, Peningkatan Jalan Batusangkar – Ombilin.

Tahun 2007 juga bermakna bagi pengembangan ekonomi Sumbar terutama mengalirnya investasi; antara lain dengan dibangunnya pabrik pengolahan ikan, diintensifkannya pengembangan cokelat di sejumlah daerah, dibangunnya pabrik meubel (Malaysia) di Dharmasraya, disetujuinya pembangunan pabrik gula baru, pabrik karet di PIP serta peningkatan jalan Kiliran Jao hingga ke batas Jambi.

Tetapi dampak bencana gempa bukan berlalu begitu saja. Nyatanya sejumlah rencana investasi juga tertunda. Para investor saling menahan diri sampai keadaan benar-benar bisa mereka anggap kondusif untuk berinvestasi lagi.

 Salah satu yang tertunda itu adalah rencana investasi dua hotel berbintang (kelompok Borobudur dan kelompok Horison) di Padang lantaran isu gempa dan tsunami.

Menatap 2008

Memasuki tahun 2008, seperti disebutkan oleh Sekdaprov Sumbar, Sumatra Barat akan memulai mengintensifkan pencapaian apa-apa yang sudah jadi rencana. “Kita bersyukur, guidline untuk membangun daerah ini sudah kita sepakati dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Sumatra Barat hingga 2025. Jadi siapa saja kelak yang mengevaluasi kinerja pemerintah provinsi Sumatra Barat mestilah mengacu kepada RPJM dan RPJP yang disepakati bersama DPRD dan masyarakat Sumatra Barat,” ujar Yohanes.

Tahun sebelumnya pasangan Gamma dituding belum mengerjakan apa-apa. Padahal tahun-tahun awal itu, pekerjaan Pemprov adalah membenahi sejumlah bengkalai, ibarat orang baralek, saat itu adalah mencuci piring dan melakukan bersih-bersih usai berpesta. Maka tahun 2007 adalah momentum permulaan langkah besar yang akan dihela oleh Pemprov Sumbar.

Awam tak bisa disalahkan kalau melihat keberhasilan pemerintah itu hanya dari pisik. Maka tahun 2007 hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan pisik, infrastruktur, pengembangan ekonomi, investasi mulai memperlihatkan hasil. Itu adalah jerih payah selama setahun 2006. Hasilnya adalah: Disetujuinya dana bantuan bencana alam, proyek kelok sembilan, proyek flyover duku, jalan Sicincin-Duku, jalan Malalak – Sicincin, pabrik gula, pabrik pengolahan ikan, pabrik meuble, pabrik karet, penambahan sejumlah pembangkit listrik baru, perpanjangan dermaga Teluk Bayur, bahkan sebuah kelompok investor juga akan memantapkan komitmennya membangun terowongan kereta api Padang-Solok. Diperkirakan dengan triliunan dana dari proyek-proyek itu, laju pertumbuhan di atas 6 persen bisa dicapai pada akhir 2008 mendatang.

Ada sejumlah harapan yang akan menambah semangat kerja masyarakat Sumatra Barat di tahun mendatang ini. Antara lain (kalau investornya menyetujui 2008) dimulainya pembangunan Singkarak Tunnel atau terowongan Singkarak yang akan dilewati jalur kereta api Padang – Solok. Jelas proyek itu akan memerlukan tenaga kerja yang banyak.

Begitu juga kalau rencana pemerintah pusat jadi melakukan ekplorasi dan ekspoitasi Blok Singkarak untuk gas dan minyak bumi, niscaya ini akan jadi lahan baru bagi angkatan kerja yang masih menganggur. Hingga Desember 2007 ini Dinas Tenaga Kerja Sumatra mencatat masih ada 243 ribu orang penganggur di Sumatra Barat.

Menurut anggota DPR RI Azwir Dainy Tara, rasa optimistis ini perlu digelorakan oleh Gubernur Sumatra Barat kepada semua kalangan di daerah. “Bagaimana kita menatap tahun baru 2008 sebagai tahun yang berarti membangun sebuah semangat optiomistis masyarakat setelah tertekan oleh trauma bencana alam. Tak hanya membangun optimistis untuk bekerja lebih giat memutar roda ekonomi yang mesti dikerjakan, tetapi perjuangan lebih keras lagi dalam berdiplomasi untuk menarik minat orang berinvestasi di Sumatra Barat,” kata Azwir.

Sementara Wakil Ketua DPD RI, Irman Gusman mengingatkan bahwa membangun semangat optimisme itu diperlukan terlebih dulu semangat kebersamaan. Para Kepala Daerah Kabupaten/Kota bersama DPRD masing-masing juga harus bersinergi di bawah koordinasi gubernur. “Kalau jalan masing-masing tanpa menghiraukan adanya koordinator, saya kira hasilnya bukan optimis melainkan pesimis, lebih berada dalam satu saf daripada berada dibarisan terpisah,” kata Irman beribarat. Ia menekankan pentingnya keseiringsejalanan antara gubernur dengan para bupati/walikota. ueko/nov/met/ita/sa           

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: