Posted by: Haluan Harian | December 31, 2007

Syafii Maarif: Bencana Budaya Mengancam Ranah Minang

PADANG, Haluan

Ancaman globalisasi yang datang menyergap dan tak dapat dibendung ikut memainkan peran penting dalam mengubah prilaku masyarakat. Globalisasi yang tak dapat dihindari itu terlebih lagi dengan kemajuan teknologi datang semakin cepat menyentuh setiap sendi kehidupan.

Ancaman globalisasi yang datang pun tanpa mengenal rasa iba. Pergeseran budaya itu juga terasa di Ranah Minang. Dalam perspektif budaya, Ranah Minang sudah menjadi bagian dari Indonesia yang sedang bingung merumuskan jati dirinya di tengah-tengah peluang dan ancaman globalisasi.

Sebab itu, Ranah Minang mengalami kegalauan budaya atau bisa dikatakan bencana budaya mengancam Ranah Minang. Itu terungkap dalam Pidato Kebudayaan Prof DR. Ahmad Syafi’I Maarif di Teater Utama Taman Budaya Sumatra Barat, Sabtu (29/12) lalu.

Dalam pidatonya yang berjudul Ranah Gurindam Dalam Sorotan (Bencana Budaya Mengancam Ranah Minang?), Maarif mengungkap, pergeseran nilai-nilai telah terjadi di Ranah Minang dapat dilihat dari prilaku orang Minang sendiri yang mulai meninggalkan agama dan adatnya.

Contoh kecil saja katanya, menyangkut masalah amanah, orang Minang tidak bisa di    percaya. ”Hal itu terjadi pada salah seorang pengusaha asal Solok yang saya kenal, ia mengeluh bahwa di kampungnya untuk mencari orang yang dapat dipercaya dalam masalah uang termasuk dikalangan keluarganya sendiri amatlah sukar,” jelasnya.

Pengalaman pahit perantau tersebut dapat menjadi tolok ukur untuk mempertanyakan dimana agama dan dimana adat yang diperkatakan tiap hari sebagai sumber kearifan dan kejujuran bagi orang Minang?

Jawabannya jelasnya, agama dan adat lebih banyak diperkatakan dalam khotbah, perhelatan dan pertemuan-pertemuan khusus, tetapi dikhianati dalam laku dan perbuatan. Kata dan laku telah pecah kongsi, dipicu oleh mentalitas ‘menerabas’. Ingin cepat kaya melalui jalan pintas tanpa berkeringat.

”Di mana-mana ditemui kenyataan merajalelanya cara hidup ikan lele, ‘semakin keruh air, semakin lahap makannya. Fatwa agama dan seruan adat sudah lama tak didengarkan,” jelas putra Minang kelahiran Sumpur Kudus 31 Mei 1935, juga Penasehat PP Muhammadiyah dan pendiri Maarif Institute ini.

Dalam suasana mentalitas dan budaya yang keruh adalah sebuah nonsense besar bila para elit masih juga berbicara tentang idealisme, tentang hari depan, tentang melawan kemiskinan, sementara laku mengkhianati itu semua tanpa rasa dosa. Perasaan tidak takut kepada dosa dan dusta adalah salah satu buah dari penyakit mentalitas menerabas yang semakin kronis menggerogoti urat nadi.

Kenyataan tersebut jelasnya, perlu difikirkan langkah-langkah serius berdasarkan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif dalam upaya mencari jalan keluar yang masuk akal dan dapat dilaksanakan. ”Pelaksanaannya melibatkan semua unsur untuk merumuskan solusi yang terbaik bagi masa depan Minangkabau,” harapnya.

Wisran Hadi, budayawan, sependapat dengan apa yang dilontarkan oleh Maarif dalam pidato kebudayaannya tersebut. Katanya, memang telah terjadi perubahan nilai-nilai di Minangkabau. Perubahan tersebut telah terjadi sejak lama. ”Sejak zaman Belanda bahkan jauh sebelum itu juga telah terjadi perubahan-perubahan. Contoh kecil, dulu di Minangkabau kepercayaan masyarakat adalah Hindu kemudian digantikan dengan masuknya Islam,” ujarnya.

Perubahan dalam masyarakat katanya, tak akan dapat dibendung karena merupakan siklus alam yang tak dapat dipungkiri. Perubahan tersebut terlihat jelas dari segi fisik seperti pakaian. Namun, perubahan yang terjadi sekarang telah jauh menyimpang dari nilai-nilai agama yang menjadi landasan orang Minang di dalam segenap sendi kehidupannya.

”Hedonisme dan sifat konsumtif mulai merambah kehidupan masyarakat Minang, sehingga orang cenderung menghalalkan segala cara dalam memenuhi kebutuhannya itu,” urainya.

Namun, pergeseran yang sangat mengkuatirkan adalah agama yang menjadi panduan hidup bagi orang Minang seperti ungkapan adat, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’ justru malah sebaliknya. ”Agama ditempatkan dan lebih cenderung mengekor pada budaya. Hal inilah yang menjadi ancaman yang sangat serius,” ujarnya. usal

Advertisements

Responses

  1. Apa yang disampaikan bpk syafii ma’rif, semua kita sangat merasakan dan menyetujui pendapat itu.
    Ini perlu menjadi pemikiran kita bersama, yang perlu dicarikan langkah-langkah untuk, bukan saja mencegahnya, tapi juga menjemput kembali apa yang tertinggal.
    Tokoh Adat dan Tokoh Agama, harus melahirkan konsep bersama, untuk kita kunyah-kunyah bersama dalam rangka membentengi anak kemenakan kita dengan datangnya globalisasi, globalisasi tetap harus dinikmati, agama dan adat harus terus bertengger di nuraninya.
    wss.

  2. USUL
    angkat kepermukaan dan proklamirkan kembali
    PRRI untuk mengangkat wibawa dan kepercayaan diri URANG AWAK untuk menghadapi masa depan.yang mana saat ini URANG AWAK sudah tidak ada taring nya,beda dengan era bapak kita tahun 50 an banyak sekali yang bisa bicara di tingkat nasional,dan masuk perhitungan di kencah politik.

  3. Insyaallah kami anak2 PRRI akan membentuk;PARTAI REVELISIONER RAKYAT INDONESI.mohon doa restu.

  4. Hayo.. Urang minang kasadonya.. mari bangkitkan dan tegakkan kembali kejayaan urang minang seperti masa lalu..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: